Dua Tahun Tanpa Pencerahan

Minggu, 1 Juni 2008

Nggak terasa tanggal 1 Juni kembali lagi datang menghampiri gw. Mencoba sedikit mengingat dan memutar kembali kenangan masa lalu, setidaknya pada kejadian beberapa tahun silam. Gw mendapati bahwa ternyata tanggal 1 Juni 2008 ini udah genap bergulir dua tahun usia karir gw di dunia penyiaran radio, khususnya di CPP RadioNet.

Lalu pertanyaannya, perubahan apa yang telah terjadi pada hidup dan karir gw di tahun ke dua yang telah gw jalani ini??? Apakah ada perubahan yang bisa dinilai secara angka hitungan pasti atau besaran gaji yang kian melambung??? Apakah ada kejelasan mengenai kelanjutan hidup gw di radio yang katanya (berambisi) jadi nomer satu ini??? Apakah menjadi seorang penyiar radio merupakan panggilan hidup gw??? Apakah menjadi seorang penyiar radio akan mampu menopang biaya hidup yang semakin hari semakin mahal???

Well, gw sendiri bingung harus mengungkapkannya seperti apa dan bagaimana??? Dua tahun menurut gw adalah waktu yang cukup untuk gw belajar di dunia penyiaran. Gw udah capek dengan segala aktifitas membosankan di balik mikropon. Gw udah capek menjadi sosok orang lain yang nyatanya itu bukanlah gw sebenernya. Gw hanya bersembunyi di balik tekanan penguasa yang menginginkan gw untuk menjadi sosok periang dengan nada-nada tinggi yang sulit dijangkau.

Emang sey gw merasa bahwa tahun kedua yang udah berhasil gw lewati ini telah memberikan banyak pengalaman baru dan seru buat gw. Namun semuanya tetep berujung pada kebosanan yang amat sangat. Mungkin ini merupakan jawaban bahwa menjadi penyiar radio sebenernya bukanlah panggilan jiwa dari seorang Firman Fauzan. Gw hanya mengikuti ego gw semata yang beranggapan bahwa daripada nganggur mending ambil aja kerjaan yang ada.

Kecewa pada diri gw sendiri??? Sepertinya sey emang begitu. Kalo aja waktu tahun 2006 itu gw nggak mengikuti bujukan mantan pacar yang paling gw benci itu, paling nggak gw juga bisa meraih pekerjaan lain yang statusnya jauh lebih jelas dengan penghasilan jauh lebih baik. Cuma karena dia terlalu kuat menahan keinginan gw untuk maju di tempat lain sehingga sampai saat ini gw tersangkut dalam ketidakpastian yang mesti gw tanggung selama dua tahun ini.

Lalu, kecewa pada perusahaan juga??? Well, I think so!!! Dua tahun ini gw merasa bagaikan kelinci percobaan yang bisa dites di sini atau di sana. Gw juga merasa seperti sebuah robot yang harus bisa standby 24 jam tanpa peduli kelelahan atau butuh istirahat. Ide kreatif hanyalah sebagai penentu deadline dan pengisi laporan sang penguasa kantor tanpa adanya penghargaan ataupun manfaat lebih untuk pekerjanya. Pekerjaan partai besar dengan bayaran paket super duper hemat plus irit medit. Fasilitas kantor yang amat sangat minim dan amat sangat tertinggal bila dibandingkan dengan tempat lain di Jakarta Raya ini.

Gw bingung, sebenernya tempat gw kerja ini mau menghargai pekerjanya atau nggak sey??? Pelit kok sampe ke udel-udelnya?! Gw masih inget betapa kecewanya gw ketika mengetahui besaran uang yang ditransfer ke rekening gw saat gw udah menjalankan kewajiban siaran gw di hari pertama Idul Fitri. Pengorbanan besar yang hanya dibayar sejumlah Rupiah yang nggak seberapa nilainya. Boro-boro uang tunjangan hari raya (THR), transferan piket hari raya aja nggak cukup buat beli parcel!!! Rela berkorban di saat orang lain menikmati kebersamaan dengan keluarga, sementara gw dan beberapa teman lainnya stuck di ruang sempit itu menciptakan dunia sendiri.

Dua tahun tanpa status yang nggak jelas membuat gw harus memikirkan kembali apa yang bisa gw dapatkan dari ketidakjelasan status ini. Nggak mungkin khan gw terus menerus mempertahankan pekerjaan yang gengsinya nanggung ini?! Dua tahun pula gw merasa nggak ada peningkatan kesejahteraan meskipun itu jumlahnya sedikit. Emang sey ada tambahan melimpah ini-itu, tapi itu khan bukan dari siaran pokok.

Fiugh … Jangan khan peduli dengan kenaikan BBM dan harga-harga lainnya, peduli sama karyawannya aja nggak ada!!! Gw udah mengalami kenaikan harga beberapa kali namun nggak ada pemikiran ataupun keputusan manajemen untuk menaikan sedikit aja dari besaran gaji gw dan karyawan lainnya. Hal yang sama bahkan dialami oleh seorang teman yang udah bekerja lebih dari 4 tahun, namun dia lebih sabar dari gw.

Bukan bermaksud sombong, merendahkan diri atau melecehkan pekerjaan, tapi gw merasa bahwa pekerjaan yang gw jalani saat ini sepertinya nggak akan mampu menopang hidup gw dalam jangka waktu lama. Jenjang karir yang hanya terpaku pada manager program di setiap station (meskipun ada tingkatan yang lebih tinggi lagi di setiap regional), pembayaran dengan sistem paket agar jadi murah, serta keengganan manajemen untuk membuka diri terhadap media partner lainnya membuat gw merasa nggak yakin ini akan menjadi lahan untuk gw hidup.

Aneh tapi nyata, dan gw harus percaya bahwa setiap bisnis harus bisa menguntungkan. Meskipun semua program harus diberanguskan, yang namanya keuntungan bisnis itu akan tetap jadi nomer satu. Itulah yang terjadi satu setengah tahun belakangan ini. Banyak sekali program-program menarik terpaksa harus dihilangkan dan digantikan dengan program-program komersil yang menawarkan iming-iming dan pembodohan massal. Tolong coba mengerti sendiri. Gw males jelasinnya karena terlalu panjang.

Gw jadi teringat pada kumpulan dialog di FTV “Ujang Pantry 2” yang menyebutkan bahwa: “Manajemen tengah dan atas itu jauh lebih menguntungkan karena mereka adalah otak dan kreatifitas penghasil uang. Sementara pekerja tingkatan bawah itu hanyalah jari pelaksana yang tidak menghasilkan uang lebih. Jadi meskipun mereka dikeluarkan, maka akan gampang mencari penggantinya.”

Mungkin prinsip itulah yang selalu digunakan sang penguasa beberapa tahun ini. Prinsip-prinsip itu melahirkan credo-credo baru yang harus selalu diterapkan: Business is still business. Don’t care about the employees, but care about the amount of money to get.

Di penghujung tahun kedua ini, ketidakjelasan kembali lagi terjadi pada gw. Sebulan tanpa kejelasan kapan gw diijinkan untuk siaran kembali. Pertanyaan itu yang selalu muncul di benak gw. Awalnya gw pikir ini hanya akan berlangsung selama seminggu aja, tapi sampe satu bulan ini nggak ada progres berarti untuk gw. Mungkin gw harus menunggu sampe dua bulan, tiga bulan, empat bulan, atau emang sengaja biar gw sekalian mengundurkan diri???

Dua tahun tanpa pencerahan, itulah kesimpulan gw untuk tahun kedua yang gw jalani di kantor ini. Semuanya terasa hambar, gelap, diam di tempat dan hanya termakan oleh kesombongan diri sendiri di dalam kandang sendiri. Orang yang punya kuasa hanya pura-pura mendengar lalu memberikan teori tentang kebenaran. Terkungkung oleh aturan-aturan yang nggak masuk akal, terbatasnya jaringan yang dimiliki hingga ketidakberdayaan melobby berbagai pihak yang selalu terjadi di dalamnya.

Whoaaaahhh … that’s what i called "SUCK!!!"

Leave a Reply